Surat Dari Padang

June 11, 2008 by esoeaeoy


Oleh : Otong Lenon ( Album Yang Muda Yang Bercanda II 1980 )

Padang, 10 Januari 1980

Menjumpai ananda Otong si Malin Rancakbana di Jakarta

Ananda tercinta,
Mudah-mudahan kau sehat-sehat ditemui surat bapak ini, yang bapak kirim via pos dengan perangko kilat khusus tiga ratus lima puluh rupiah. Lebih mahal dari perangko kilat menyambar. Tapi nggak papa, bapak baru terima gaji ke-empat belas.

Demi kesehatanmu bapak anjurkan rajin-rajinlah push up di ‘steambath’. Tapi jangan terlalu sering, cukup tiga kali seminggu. Kalau terlalu sering nanti kamu bisa terserang kanker dengkul. Sayangilah dengkulmu selagi muda sebab dengkul adalah modal utama untuk bisnis.

Mudah-mudahan pula sampai saat ini kau masih tetap anak bapak. Kalau kau sudah tidak mengakui lagi, yah itupun masih wajar. Sebab konstruksi tubuhmu itu dulunya dikerjakan oleh teman bapak yang sekantor. Kau jangan berkecil hati, walau dirimu itu hasil karya orang lain, toh masih bapak yang meng-editnya.

Bukan berarti bapak tidak mau mengerjakannya. Kau kan tahu sendiri, bapak orangnya boros. Daripada bahan baku habis bangunan tidak selesai, kan lebih baik diupahin sama orang lain. Ini juga berarti pemerataan kesempatan kerja.

Oh iya, membaca suratmu yang terakhir kemarin, bapak juga merasa bangga. Rupanya kau sudah mulai berdiri diatas kaki sendiri. Berarti setelah lima tahun kuliah kau sudah tahu apa fungsinya kaki. Mudah-mudahan setelah dapat sarjana nanti, kau akan tahu apa fungsinya tangan, hidung, bibir, paha dan selah-selahnya.

Nah, oleh sebab itu kiriman bapak tiga juta setiap bulan sekarang bapak stop dulu. Sebagai gantinya bapak kirimkan tiga rim kertas folio yang berisi tanda tangan bapak. Nah gunakanlah untuk kesejahteraanmu.

Jangan malu-malu nak, ‘acuh bae-bae’ saja dengan omongan orang lain. Kan ada pepatah mengatakan “Anjing menggonggong si kafir tetap berlalu”. Nah, anggap saja orang-orang yang ngomong itu anjing dan kamu sebagai si kafirnya.

Bukan berarti bapak menyuruh kamu jadi kafiran. Pada zaman merdeka ini kau juga boleh pilih diantara dua itu, mau jadi anjing atau mau jadi kafir.

Menurut bapak lebih baik jadi si kafir. Sebab kalau jadi anjing, nanti kau diculik mereka-mereka itu. Jangan kau lewat-lewat Grogol bahaya kau nanti, bisa-bisa kau disate sama mereka-mereka itu.

Minggu kemarin juga kami di kampung melihat fotomu dan kawan-kawanmu terpampang disebuah koran. Kalian sedang duduk-duduk di teras gedung DPR. Kami kira kau pindah indekos kesana.

Tahu-tahunya kau ikut-ikut begituan ya, nakal kamu ya. Hati-hati nak nanti kamu ketangkep. Belajar saja biar cepat dapat titel, manut-manut saja nak dengan segala peraturan.

Nanti setelah tamat kuliah cari kedudukan cari harta yang banyak. Jangan pilih-pilih haram atau halal nanti kamu nggak kebagian. Sekarang ini saja yang haram tinggal sedikit, apalagi yang halal. Camkan ya nasehat bapak ini.

Sudah cukup disini, akhir kata bapak ucapkan amit-amit jabang bayi.

Sekian bapakmu
Si Malin Kundang

Nb:
Jangan gelisah tentang bapak digosipkan dengan seorang peragawati itu. Semua itu memang benar bapak akan kawin dengan dia. Beruntunglah kamu dapat ibu cakep, entar kan bisa gantian. Jangan percaya tentang dongeng ibu tiri nak. Sekejam-kejam ibu tiri masih lebih kejam ibu kota.

Iwan Fals

April 7, 2008 by esoeaeoy

Iwan Fals yang bernama lengkap Virgiawan Listanto (lahir 3 September 1961 di Jakarta) adalah seorang penyanyi beraliran balada yang menjadi salah satu legenda hidup di Indonesia.

Lewat lagu-lagunya, ia ‘memotret’ suasana sosial kehidupan Indonesia (terutama Jakarta) di akhir tahun 1970-an hingga sekarang. Kritik atas perilaku sekelompok orang (seperti Wakil Rakyat, Tante Lisa), empati bagi kelompok marginal (misalnya Siang Seberang Istana, Lonteku), atau bencana besar yang melanda Indonesia (atau kadang-kadang di luar Indonesia, seperti Ethiopia) mendominasi tema lagu-lagu yang dibawakannya. Iwan Fals tidak hanya menyanyikan lagu ciptaannya tetapi juga sejumlah pencipta lain.

Iwan yang juga sempat aktif di kegiatan olahraga, pernah meraih gelar Juara II Karate Tingkat Nasional, Juara IV Karate Tingkat Nasional 1989, sempat masuk pelatnas dan melatih karate di kampusnya, STP (Sekolah Tinggi Publisistik). Iwan juga sempat menjadi kolumnis di beberapa tabloid olah raga.

Kharisma seorang Iwan Fals sangat besar. Dia sangat dipuja oleh kaum ‘akar rumput’. Kesederhanaannya menjadi panutan para penggemarnya yang tersebar diseluruh nusantara. Para penggemar fanatik Iwan Fals bahkan mendirikan sebuah yayasan pada tanggal 16 Agustus 1999 yang disebut Yayasan Orang Indonesia atau biasa dikenal dengan seruan Oi. Yayasan ini mewadahi aktivitas para penggemar Iwan Fals. Hingga sekarang kantor cabang OI dapat ditemui setiap penjuru nusantara dan beberapa bahkan sampai ke manca negara.

Masa kecil Iwan Fals dihabiskan di Bandung, kemudian ikut saudaranya di Jeddah, Arab Saudi selama 8 bulan. Bakat musiknya makin terasah ketika ia berusia 13 tahun, di mana Iwan banyak menghabiskan waktunya dengan mengamen di Bandung. Bermain gitar dilakukannya sejak masih muda bahkan ia mengamen untuk melatih kemampuannya bergitar dan mencipta lagu. Ketika di SMP, Iwan menjadi gitaris dalama paduan suara sekolah.

Selanjutnya, datang ajakan untuk mengadu nasib di Jakarta dari seorang produser. Ia lalu menjual sepeda motornya untuk biaya membuat master. Iwan rekaman album pertama bersama rekan-rekannya, Toto Gunarto, Helmi, Bambang Bule yang tergabung dalam Amburadul, namun album tersebut gagal di pasaran dan Iwan kembali menjalani profesi sebagai pengamen. Album ini sekarang menjadi buruan para kolektor serta fans fanatik Iwan Fals.

Setelah dapat juara di festival musik country, Iwan ikut festival lagu humor. Arwah Setiawan (almarhum), lagu-lagu humor milik Iwan sempat direkam bersama Pepeng, Krisna, Nana Krip dan diproduksi oleh ABC Records, tapi juga gagal dan hanya dikonsumsi oleh kalangan tertentu saja. Sampai akhirnya, perjalanan Iwan bekerja sama dengan Musica Studio. Sebelum ke Musica, Iwan sudah rekaman sekitar 4-5 album. Di Musica, barulah lagu-lagu Iwan digarap lebih serius. Album Sarjana Muda, misalnya, musiknya ditangani oleh Willy Soemantri.

Iwan tetap menjalani profesinya sebagai pengamen. Ia mengamen dengan mendatangi rumah ke rumah, kadang di Pasar Kaget atau Blok M. Album Sarjana Muda ternyata banyak diminati dan Iwan mulai mendapatkan berbagai tawaran untuk bernyanyi. Ia kemudian sempat masuk televisi setelah tahun 1987. Saat acara Manasuka Siaran Niaga disiarkan di TVRI, lagu Oemar Bakri sempat ditayangkan di TVRI. Ketika anak kedua Iwan, Cikal lahir tahun 1985, kegiatan mengamen langsung dihentikan.

Selama Orde Baru, banyak jadwal acara konser Iwan yang dilarang dan dibatalkan oleh aparat pemerintah, karena lirik-lirik lagunya dianggap dapat memancing kerusuhan. Pada awal karirnya, Iwan Fals banyak membuat lagu yang bertema kritikan pada pemerintah. Beberapa lagu itu bahkan bisa dikategorikan terlalu keras pada masanya, sehingga perusahaan rekaman yang memayungi Iwan Fals enggan atau lebih tepatnya tidak berani memasukkan lagu-lagu tersebut dalam album untuk dijual bebas. Belakangan Iwan Fals juga mengakui kalau pada saat itu dia sendiri juga tidak tertarik untuk memasukkan lagu-lagu ini ke dalam album.

Rekaman lagu-lagu yang tidak dipasarkan tersebut kemudian sempat diputar di sebuah stasiun radio yang sekarang sudah tidak mengudara lagi. Iwan Fals juga pernah menyanyikan lagu-lagu tersebut dalam beberapa konser musik, yang mengakibatkan dia berulang kali harus berurusan dengan pihak keamanan dengan alasan lirik lagu yang dinyanyikan dapat mengganggu stabilitas negara. Beberapa konser musiknya pada tahun 80-an juga sempat disabotase dengan cara memadamkan aliran listrik dan pernah juga dibubarkan secara paksa hanya karena Iwan Fals membawakan lirik lagu yang menyindir penguasa saat itu.

Iwan Fals 2003

Iwan Fals 2003

Pada bulan April tahun 1984 Iwan Fals harus berurusan dengan aparat keamanan dan sempat ditahan dan diinterogasi selama 2 minggu gara-gara menyanyikan lirik lagu Demokrasi Nasi dan Pola Sederhana juga Mbak Tini pada sebuah konser di Pekanbaru. Sejak kejadian itu, Iwan Fals dan keluarganya sering mendapatkan teror. Hanya segelintir fans fanatik Iwan Fals yang masih menyimpan rekaman lagu-lagu ini, dan sekarang menjadi koleksi yang sangat berharga.

Saat bergabung dengan kelompok SWAMI dan merilis album bertajuk SWAMI pada 1989, nama Iwan semakin meroket dengan mencetak hits Bento dan Bongkar yang sangat fenomenal. Perjalanan karir Iwan Fals terus menanjak ketika dia bergabung dengan Kantata Takwa pada 1990 yang didukung penuh oleh pengusaha Setiawan Djodi. Konser-konser Kantata Takwa saat itu sampai sekarang dianggap sebagai konser musik yang terbesar dan termegah sepanjang sejarah musik Indonesia.

Setelah kontrak dengan SWAMI yang menghasilkan dua album (SWAMI dan SWAMI II) berakhir, dan disela Kantata (yang menghasilkan Kantata Takwa dan Kantata Samsara), Iwan Fals masih meluncurkan album-album solo maupun bersama kelompok seperti album Dalbo yang dikerjakan bersama sebagian mantan personil SWAMI.

Sejak meluncurnya album Suara Hati pada 2002, Iwan Fals telah memiliki kelompok musisi pengiring yang tetap dan selalu menyertai dalam setiap pengerjaan album maupun konser. Menariknya, dalam seluruh alat musik yang digunakan baik oleh Iwan fals maupun bandnya pada setiap penampilan di depan publik tidak pernah terlihat merek maupun logo. Seluruh identitas tersebut selalu ditutupi atau dihilangkan. Pada panggung yang menjadi dunianya, Iwan Fals tidak pernah mengizinkan ada logo atau tulisan sponsor terpampang untuk menjaga idealismenya yang tidak mau dianggap menjadi wakil dari produk tertentu.